CUCU PANDHAWA


PARIKESIT


Jumenengan Parikesit
Lakon Jumenengan Parikesit merupakan cerita di penghujung perang besar Bharatayudha. Ketika para Pandhawa telah berhasil merebut kembali Negara Hastinapura, Parikesit dipersiapkan menduduki tahta untuk menjadi raja. Parikesit adalah anak Raden Abimanyu dan Dewi Utari. Ketika masih di dalam kandungan, bayi ini telah diramal oleh Prabu Batara Kresna bakal menjadi raja. Karena waktu itu wahyu raja bernama Wahyu Cakraningrat yang diperebutkan Kurawa dan Pandhawa jatuh kepada pasangan Abimanyu dan Dewi Utari. Kini setelah perang besar Baratayuda selesai, ramalan Prabu Batara Kresna tersebut terbukti, Parikesit dipilih menjadi raja.
Wahyu Cakraningrat telah mengantar Parikesit ke bibir tahta Negara Hastinapura. Namun untuk menduduki tahta tersebut, dan dikukuhkan menjadi raja, ada 4 syarat yang dibutuhkan. Pertama, persetujuan para kerabat dan saudara. Kedua, restu dari pinisepuh, dalam hal ini yang dipilih Parikesit adalah Wasi Jaladara atau Baladewa Sepuh. Ketiga, Semar dan tiga anaknya sebagai wakil dari rakyat Hastinapura. Dan keempat adalah sipat kandel, dalam hal ini pusaka Kalamisani, keris berlekuk sembilan. Demi kelancaran upacara wisuda, raja baru Janurwenda yang dituakan membagi tugas untuk melengkapi keempat syarat tersebut.
Namun sebelum semuanya berjalan, datanglah utusan Prabu Wesiaji dari Negara Pringgandani, yang intinya minta bagian kekuasaan, dengan alasan bahwa orang tuanya, yaitu Raden Gatotkaca, telah gugur sebagai pahlawan dalam Perang Bharatayuda. Utusan dari Pringgandani tersebut cukup mengganggu proses persiapan wisuda Raden Parikesit.
Menanggapi utusan Prabu Wesiaji, Raden Parikesit menawarkan agar Prabu Wesiaji dan adiknya, Sri Tanjung, mau bergabung dengan saudara-saudaranya untuk memperkokoh Negara Hastinapura. Namun Prabu Wesiaji yang merasa sakti dan menganggap orang tuanya yang paling berjasa bagi Negara Hastinapura tidak mau menanggapi ajakan Raden Parikesit. Maka terjadilah pertempuran antara Negara Pringgandani dan Negara Hastinapura. Pada akhirnya Pringgandani kalah, dan mau tidak mau Prabu Wesiaji dan Sri Tanjung mendukung Parikesit menjadi raja.
Sebelum fajar merekah cerita Jumenengan Parikesit berakhir. Ki Poniran Cermo Brata, yang berperan sebagai dalang, turun dari panggung pertunjukan. Sementara tokoh-tokoh berujud wayang kulit yang terlibat pada pergelaran Wayang Kulit Purwa Jumat Legen, satu persatu dimasukkan kembali ke dalam kotak. Namun sesungguhnya hal tersebut tidak merupakan akhir dari pertunjukan. Karena pada dasarnya sang dalang tidak sekadar memainkan benda yang berujud wayang kulit, tetapi lebih dari itu. Yang dimainkan untuk dipertontonkan pada malam itu adalah ambisi manusia. Ambisi untuk berkuasa menjadi orang nomor satu di sebuah negara besar.
Sama-sama berambisi untuk menuju kursi puncak, yang dijalani Prabu Wesiaji dan Raden Parikesit berbeda. Cara yang dilakukan Prabu Wesiaji adalah cara yang mempertunjukkan kesaktian, kekuatan, modal besar dan pamer akan jasa besar yang telah dilakukan oleh orang tuanya. Sedangkan Raden Parikesit lebih mempergunakan cara santun, dan menganggap bahwa kesempatan untuk menduduki puncak kekeuasaan adalah warisan dan titipan dari para pendahulunya, yang telah merintis mulai dari babad alas hingga menjadi kotaraja yang makmur. Ia menyadari bahwa keberhasilannya menduduki tahta puncak, bukan karena keprihatinannya dan bukan pula karena kekuatan, kesaktian dan jasa-jasanya, tetapi karena, pertama, kerelaan dari para kerabat saudara yang mempunyai hak waris atas negara Hastina. Kedua, dukungan dari rakyat yang diwakili oleh Semar serta anak-anaknya. Ketiga, doa restu sesepuh negara yang diwakili oleh Wasi Jaladara. Keempat, pusaka turun-temurun keris luk sembilan yang bernama Kalamisani yang menggambarkan restu para leluhur, perintis dan pahlawan negeri yang telah meninggal. dan tentu saja semua itu ditambah syarat yang ke lima, yaitu berkat dan kehendakNya yang ada di atas.

Original Posted By antasena_kekota

 

akon : Bambang Kaca
Dalang : Asep Sunandar Sunarya
Lingkung Seni : Giri Harja III

Sinopsis :
Bangbang Kaca adalah Putra dari Gatotkaca yang diasuh oleh kakeknya. Pandawa kini telah tiada, yang ada hanya keturunannya. negara Astina milik Pandawa sedang ada serangan dari negara musuh, putra dari Abimanyu yaitu Raden Parkesit dibunuh. serta negara Astina diporak-porandakan oleh Musuh. Bangbang Kaca ingin menyelamatkan adiknya Raden Parkesit dan Negara Astina dari serangan musuh. namun sebelum menyelamatkan adiknya, Bangbang Kaca dipinta oleh Batara Guru untuk mengalahkan terlebih dahulu seorang Gendawa yang mengamuk di Sawarga, karena semua para Dewa taluk oleh gendawa ini. apakah Bangbang Kaca berhasil menyelamatkan Adiknya Raden Prkesit dan negara Astina? dan apakah Bangbang Kaca mampu mengalahkan Gendawa yang sedang mengamuk di Sawarga? prung geura disedot ameh langkung jelas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s